Total Tayangan Halaman

Jumat, 13 Mei 2011

MEWAHNYA SETETES AIR

Terkadang kita larut dalam kehidupan kita sendiri dan lupa kita hidup di dunia nyata yang luas ruang lingkup serta komplek permasalahannya. Sukur-sukur kalo aktifitas yang kita lakukan itu positif, dalam arti bermanfaat bagi diri sendiri terlebih bagi sesama. Tetapi kadang terjerumus pada pola pikir keduniaan yang hanya mengejar kebendaan hanya untuk mengejar kepuasan semu tak berujung. 
He.. he.. he.. pengantar yang buruk rupanya dan mungkin kurang nyambung, Tapi mungkin itu pesan moralnya.


Dalam ilmu geologi, di planet bumi yang kita tinggali ini terdapat banyak jenis bentang lahan. Diantaranya pegunungan vulkanik, padang pasir, karst dan lain2 lain. Kebetulan meurut ilmu geologi, saya tinggal di kawasn karst. Dengan bantuan teman, sedikit banyak saya menjadi lebih tahu tentang tempat saya itu. Dan ternyata bentang lahan seperti yang saya tinggali ini banyak terdapat di Indonesia, bahkan tersebar di seluruh dunia. 

Karst adalah area dengan batuan gamping sebagai penyusun bentang lahanya dan telah mengalami karstifikasi. Batuan yang dalam kimia di kenal dengan kalsium karbonat itu tadinya berupa terumbu karang yang terbentuk di lautan. Karena proses tumbukan antar lempeng benua, memungkinkan area ini terangkat secara kontinyu hingga mncapai ketinggian puluhan sampai ribuan meter diatas permukaan air laut. Perlu diketahui bahwa pegunungan jaya wijaya sebagian areanya juga merupakan kawasan karst. Ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya fosil-fosil binatang dan tumbuhan laut seperti layaknya terumbu karang, yang letaknya jauh di daratan, sampai puluhan kilo meter dari pantai. 
Setelah berada di permukaan karena batuan ini berpori bahkan berongga, berlapis, serta terdapat retakan-retakan dalam skala luas, maka air hujan meresap melalui ketiga media itu. Kalsium karbonat secara kimiawi lemah terhadap asam yang terkandung dalam air hujan. Maka batuan gamping akan tererosi, membentuk  perbukitan dan lorong-lorong gua di bawah permukaannya. Peristiwa pelarutan hingga terbentuknya perbukitan dan lorong-lorong gua inilah yang yang disebut karstifikasi. Kawasan yang terbentuk karena proses ini disebut kawasan karst.


Ironisnya di sebagian kawasan ini mempunyai curah hujan yang relatif mini. Saat terjadi hujan, air tidak bisa bertahan lama di permukaan. Sebagian menguap, sebagian meresap kedalam tanah danbatuan karena sifatnya yang berpori, sebagian lagi laansung masuk ke lorong-lorong gua atau mengalir kesungai dan terbuang ke laut. Jarang sekali di jumpai sumur dan sungai yang ada airnya sacara permanen sepanjang taun. Kebanyakan kering di musim kemarau. Sedangkan air yang meresap kedalam batuan tadi, diteteskan secara bertahap dalam rongga-rongga gua. Tetesan ini akan menjadi kolam kolam kecil, aliran kecil hingga aliran sungai bawah tanah dengan debit yang relatif besar. Debit bisa beberapa liter perdetik tetapi bisa mencapai ratusan bahkan ribuan liter/detik di bagian hilir yaitu di pantai-pantai karst. Sehingga sering di jumpai suber-sumber matai air kecil dan besar di pantai-kars karst yang merupakan ujung dari sungai bawah tanah.

Fenomena ini menarik secara keilmuan, namun skaligus bencana bagi sebagian kawasan karst yang tandus dan kering disaat musim kemarau. Air menjadi sangat langka dan sulit dijumpai. Tanaman pangan tidak bisa tumbuh, kesulitan untuk mendapatkan air untuk di konsumsi, minuman ternak dan kebutuhan sehari-hari. Sedang kita tahu air menjadi kebutuhan mendasar dalam kelansungan hidup setiap makhluk. Coba bayangkan menjadi minim atau bahkan tidak ada sama sekali.

Hal ini deperparah dengan laju kerusakan hutan yang berfungsi memperlambat peresapan dan pengaliran langsung ke saluran pelimpasan serta menghambat penguapan.Di tambah lagi penambangan batu gamping atau batu kapur sebagi bahan dasar semen, kosmetik dan berbagai bahan dasar industri lainnya. Sesunguhnya batuan gamping berfungsi sebagai penyimpan sementara seperti halnya busa yang menyerap air dan meneteskannya secara perlahan hingga musim penghujan berikutnya tiba untuk diisi kembali. Pengalih funngsiana hutan dan penambangan gamping di kawasan karst menjadi bom waktu yang bergerak capat menghasilkan bencana kekeringan dalam sekala besar.

Di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi
Realitas ini sudah banyak terjadi di Pulau jawa. Penduduk di darah yang relatif belum berkembang baik bahkan cenderung tertinggal, sebagian besar sumber ekonominya sebagai petani. Mereka rela antri di pagi buta, pada sumber-sumber mata air kecil yang tersisa. Mereka mandi dan mencuci di telaga-telaga karst yang akhirnya akan mengering juga. Terkadang mereka harus rela berbagi tempat dengan ternak sapi yang dimandikan. 

Bulukumba Sulawesi


Bagi mereka yang mampu, membeli dari tangki-tangi air komersil dg harga mahal unutk sebuah air. 5000l air di hargai mulai Rp. 70.000,- - Rp. 150.000,- yang cukup di konsumsi selama 2-3 minggu tergantung pola konsumsi dan jumlah anggota keluarga. Bayangkan bila musim kemarau berlangsung selama 5-6bulan atau lebih, pada awal-awal musim penghujan, air juga masih susah didapatkan. Merka juga harus merelakan uang tak kurang dari Rp.20.000,- / hari untuk membeli pakan ternak bagi yang memelihara ternak. Oleh karena itu, ternak di kawasan ini lebih dinilai sebagai investasi atau tabungan yang dapat dijual setiap saat, ketika terhimpikt kebutuhan. Karena kalau di hitung secara ekonomi antara biaya produksi selama pemeliharaan dan harga jual, hanya ada beda tipis bahkan terkadang merugi.

Namun realitas yang lain lagi, terjadi di perkotaan yang notabene sumber air alira pipa PDAMnya diambil dari daerah2 pegunugan atau setidaknya aliran sungainya berhulu dari daerah-daerah pegunungan. Penduduknya sering menghambur-hamburkan air yang terkadang untuk kepentingan yang tidak perlu. Semoga dengan tulisan ini bisa membantu membuka wacana untuk lebih menghargai setiap tetes air yang kita gunakan, karena dilain sudut bumi ini, setiap liter air bukan hanya menjadi barang yang mewah namun juga terkadang sangat susah diakses.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar