Total Tayangan Halaman

Senin, 09 Mei 2011

CERITA SEORANG TEMAN


Beberapa tahun silam seorang teman datang tak diundang. Seketika muncul dalam list pertemanan aplikasi massanger yang baru saya aktifkan. Mungkin sekitar tahun 2006. Pendek kata haari berlalu. Disela-sela waktu luang barisan huruf, angka dan symbol terkadang berbalasan. Sambil sesekali terhenti oleh kesibukan. Kadang berisi gurauan, kadang cerita omong kosong. Doing nothing with friend istilahmu
Semakin kesana terkadang menjadi semakin serius. Dari cerita biasa sampai akhirnya berbagi tentang latar belakang hidup, pandangan hidup, orientasi hidup sampai ke permasalahan hidup.

Ya …
Setiap orang pasti mempunyai permasalahan hidup. Begitu juga dengan aku dan temanku itu.  Terkadang kami bertukar pikiran, saling mengeluh dan salang menguatkan. Begitu mesra dalam sebuah hubungan  pertemanan. Yah…
Hal ini juga dikarenakan sejak aku lepas dari rumah memang selalu kehilangan teman untuk bertukar pikiran, dalam arti yang lebih mendalam. Terus terang aku besar di lingkungan pertemanan di banding lingkungan keluarga. Hingga sebuah kesalahan aku berpikir lebih tentang sebuah perteman. mungkin sudah nasibku menjadi tempat penampungan setiap permasalahan, tanpa aku berkesempatan aku mengungkapkan permasalahanku sendiri. Serasa tak adil memang. Namun ini mungkin berkat yang selama ini tidak aku sadari dan lupa aku syukuri.

Masalah yang dia keluhkan begitu pelik dan seakan tak tahu dimana ujung pangkalnya. Aku selalu mencoba memberikan pandangan yang obyektif. Yang ku dapatkan pemahaman bahwa dalam setiap permsalahan hanya orang itu yang benar-benar tahu. Aku tak ingin memaksakan cara pandangku terhadap permasalahan itu. Selalu ku diskusikan, antara cara pandangku dangan penilainnya sendiri terhadap masalahnya itu sendiri. Dari situ kocoba memberi jalan tengah antara idealnya sebuah permsalahan diselesaikan dengan egonya untuk mendapat solusi yang sesuai dengan keinginannya. Hidup ini bukan masalah keinginan teman, tapi hanya maslah berusaha dan mensyukuri apa yang kita dapatkan.

Suatu ketika di tengah hari, entah kenapa dia menelepon, dengan nada suara yang sangat gusar. Bahkan di dalam telepon dikatakan tidak peduli walaupun dalam jam kerja dan dalam pengawasan kamera cctv di area kerja. Bukan watak sebenarnya dalam keseharian kerjanya. Begitu pelik rupanya, sebuah luapan emosi yang agak tak terkendali. Aku hanya mencoba menenangkan dan membuata otaknya dingin. Sambil kusisipkan gurauan pada akhir pembicaraan. Dengan harapan, senyum menjadi hasil akhir dari keluh kesah itu.

Waktupun terus beranngsur berganti. bebrapa tahun kemudian berita baikpun mulai terdengar. Apa yang aku katakan dulu yang tidak dia inginkan harus terjadi juga. Walau baik yang kumaksud mungkin memang sepihak untuk kebaikannya. Tetapi bukan baik dalam arti keseluruhan. Sampai saat tulisan ini kubuat, proses penyelasaianya masih berjalan. Dan kudoakan semoga capat berakhir mimpi buruk berkepanjangan itu.

Namun sebenarnya keadaan sedikit berbalik saat ini. Aku sedang menghadapi kegelisahan. Kegelisahan diombang ambingkan sang waktu. Di ombang-ambingkan dalam keyakinan sebuah janji yang aku yakini pasti kebenarannya.
Ya……
Hanya masalah waktu dan keiklasan dalam menjalaninya sebenarnya
Namun kegelisahan itu begitu menyeruak. Dan aku butuh seorang teman untuk mengukuhkan keyakinan apa yang ku yakini itu. Tapi keadaan tidak mengijinkan rupanya. Kesibukan dan tanggung jawabnya yang begitu besar, mengkendalakan keinginanku itu. Terkadang pikiran buruk muncul. Namun beru-buru ku tepis. Aku berusaha memahami keadaan itu walau terkadang serasa tak adil. Semoga itu perasaan yang wajar dan manusiawi.
Akupun tidak ingin perasaan ini berlanjut, tetap berpikir jernih dan menepis prasangka buruk.
Dengan terpakasa aku harus menghilangkan setiap kontak untuk mengaksesnya secara digital.
Mungkin ini yang terbaik untuk aku dankamu temanku
Maafkan
Aku berdoa, semoga kamu mendapatkan yang terbaik di dunia dan akhirat kelak
Kamu akan tetap menjadi temanku, menjadi bagian dari setiap pecahan serpihan penyusun mozaik kehidupanku sebagaimana serpihan serpihan mozaik yang lain yang telah membentuk lukisan kehidupanku sampai saat ini.
Aku tak berharap banyak sampai suatu saat kilatan cahaya redup melintas di ufuk barat ikut terbenam bersama mentari yang kembali keperaduan dan semakin temaran oleh terangnya lampu-lampu yang menyesatkan. Bukan seperti pelita kecil yang menjadi penuntun dalam gulita kegelapan malam

Jogja042009052011
Jaga malam cui
 Daripada liat pilem porno, wakakakakakakkakkakakak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar