Total Tayangan Halaman

Rabu, 25 Mei 2011

Eksotisme Pantai Pantai di Gunungkidul


Gunungkidul merupakan kabupaten paling timur di Yogyakarta. Sebagian besar wilayah pesisirnya merupakan bentang lahan berbatu kapur. Bentang lahan jenis ini menurut ilmu geologi, merupakan terumbu karang yang terangkat ke permukaan karena proses tumbukan antar lempeng-lempeng kulit bumi. Karena berbahan dasar kalsium karbonat, batuan ini mudah tererosi secara kimia oleh zat asam, yang terkandung dalam air hujan. Proses pelarutan ini di sebut karstifikasi. Dampak dari pelarutan ini, terbentuk perbukitan kapur yang eksotis. Bentang lahan semacam ini biasa disebut "bentang lahan karst atau kawasan karst"

Pantai-pantai di kawasan karst juga berbeda dengan pantai-pantai di kawasan lain. Pantai bisa berupa pantai landai dengan pasir putih, namun juga bisa berupa tebing curam dengan ketinggian yang bisa mencapai puluhan meter. Masing-masing pantai menyuguhkan pemandangan yang eksotis dan daya tarik yang berbeda-beda.

Pesisir Gunungkidul membentang dari barat, mulai sebelah timur pantai Parangtritis di Kabupaten Bantul, ketimur berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri Propinsi Jawa tengah. Diantara pantai-pantai itu adalah:

1. Pantai Sadeng
Pantai sadeng adalah pantai tertimur di Kabupaten Gunungkidul. Pantai ini merupakan pelabuhan nelayan. Perahu dan kapal berukuran kecil, bisa bersandar di pantai ini. Suasana pantai dan akifitas nelayan dengan kapal-kapalnya, menjadi hal yang menarik untuk dinikmati.
Namun, sebelum mencapai Pantai  Sadeng, perjalanan akan melewati sebuah lembah memanjang, bernama Bengawan Solo Purba. Kenapa diberi nama demikian?
Menurut ilmu geologi, pantai Sadeng dulunya diduga sebagai muara dari Bengawan Solo Purba. Teori kebumian yang ada menyatakan, tadinya Bengawan Solo bermuara di pantai selatan Pulau Jawa. Karena proses pergeseran lempeng benua, lempeng Indo-Australia menumbuk lempeng Benua Asia, menyebabkan pengankatan. Akhirnya, dengan hulu yang sama, aliran Bengawan Solo berbalik ke utara. 

Pantai Ngungap
Lebih tepatnya bisa disebut Tebing Ngungap. Tebing curam stinggi  kurang lebih 50 meter menjadi titik temu antara daratan dan lautan. Areal kawasan yang tak terlalu luas ini, menjadi areal konservasi dengan berbagai macam tumbuhan dan binatang yang menghuninya. Namun aku tak mempunyai informasi lebih banyak tentang temapt ini.

Memasuki kawasan ini kita tidak bisa membawa masuk kendaraan. Terdapat semacam pintu yang menghalangi jalan untuk masuk kendaraan. Mulai dari pintu masuk kita harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 300 meter, jalan berbatu yang sudah sangat baik.

Mulai memasuki kawasan terdapat papan larangan membawa kendaraan dan melakukan aktifitas merumput, mencari kayu di area konserfasi serta memancing dan mencari udang disekitar rumah walet di dinding tebing itu. Ooooww ternyata ada sarang burung walet di bawah sana.

Selepas membaca papan pengumuman itu, 100 meter didepan sana, nampak sebuah pendopo dengan halaman berumput rapi yang ampak alami. Rapi namun bukan karena di pelihara. Sepanjang jalan menuju pendopo terasa sejuk, karena dinaungi pepohonan yang tak aku tahu juga namanya. Dalam imajinasiku seperti membentuk sebuah lorong.
Wakakakakakakakkkk..., ternyata minim sekali pengetahuanku.
Bodoh sekali ternyata diriku

Pendopo namapak sangat tidak terawat dan rusak di beberapa tempat. Namun tempat ini sangat begitu asri, tenang dan damai. Seandainya ada semacam home stay tentu nyaman sekali menginap di tempat ini. Saat malam akan menjadi indah diiringi nyanyian deburan ombak yg menggelora, ditemani rembulan dan gemintang yang mengerling nakal. Tentu cocok sekali untuk honeymoon. Kalu sudah sperti ini tendapun jadi.
Aaaaaaaaakkakakakakkkk........., otak kotorku nongol lagi

Di seberang pendopo terdapat pagar yang jadi pengaman tepat di bibir tebing.
Huaaaaaaah... sungguh perasaan yang sangat luar biasa saat mata lepas jauh memandang tak terbatas.
Garis horizon melengkung biru seluas mata memandang lautan. Aku tertegun dan merasa kecil. Hanya perasaan sangat nyaman dan syukur aku  bisa berada di tempat ini.
Sesaat kemudian kulihat kesisi selatan pendopo. Nampak jalan setapak disela hutan pandan. Dengan penasaran aku menuju kesan. TErnyata di seberan ada semacam tanah lapanng sempit. Dari sini pandangan ke arah timur benar-benar tak terhalangi. Nampak ajaran tebing pantai yang benar-benar eksotis membentang disisi sana. Sekali lagi perasaan nyaman itu hinggap, seperti memancang kakiku agar tak henyak dari tempat ini. Namun beberapa saat kemudian setelah mengambil beberapa frame gambar dan menghabiskan beberap batang rokok yang menjadi satu-satunya teman setiaku ku putuskan untuk beranjak. Aku harus menuju Pantai Wedi Ombo, pantai eksotisku berikutnya. Terasa hancur hatiku harus berpisah, meniggalkan dirimu Pantai Tebing Ngungapku. Huuu... hu.... hu... hu....


Pantai Wedi Ombo
Setelah meliuk melahap tikungan ekstrean  jalanan aspal khas Gunungkidul sampailah kepantai berikut. Namanya Wedi ombo, dalam bahasa indonesia wedi berarti pasir dan ombo berarti luas, jadi secara harfiah berarti pasir yang luas.
wakakakakakakakkkk bener "harfiah" ga sih.
Dasar sok tahu deh aku......
Memang demikian adanya. Hamparan pasir putih agak kecoklatan sedikit membentang, menurut perkiraan ku, tak kurang dari 1 kilo meter. Kalaupun kurang, pasti sedikit sekali, karena malah bisa lebih
Ahihihihiihihihii.

Sisi pinggir pantai di naungi pepohonan, sehingga kalo kecapekan jalan-jalan atau bermain pasir atau bermain air bisa langsug ngadem. View pantai dengan jajaran perbukitan di sisi kiri danbebatuan di tengan sana yang menyebabkan pecahnya hempasan ombak jadi suguhan utama. apa lagi saat matahari terbenam, pasti lebih molek. Karena menurutku, kalu ga bingung pantai wedi ombo menghadap kebarat. Jadi tinggal tunggu sore, siapkan kamera dan berharap cuaca baik. Pasti langit kemerahan tercermin di bentang lautan akan memjadi pemandangan yang wow wow wow, luar biasa.

Nilai eksotis dari pantai Wedi Ombo, disamping keindahan viewnya juga kandunagn ilmiahany. Disini kita bisa melihat batuan dasar dari batuan gamping. Sebenarnya Gamping merupakan terumbu karang yang menumpang pada batuan vulkanik dan terangkat ke permukaan karena tumbuaka antar lempeng benua. Terbayangkan batuan kapur yang tingginya bisa rausan bahakan ribuan meter diatas permukaan air laut tadinya berada di bawah muka air laut. Perlu diketahui, kabarnya sebagian pegunungan cartens merupak batuan gamping. Sungguh mencengangkan kalau tempat itu tadinya terendam di lautan. Waaawwwww..........

Jiaaaaahh
Puanas teriik. Rupanya dah tengah hari. Haus, perut juga juga mulai protes minta di isi ulang. Aku sempatin minunm segelas esteh seharga 2000 rupiah. Namun Aku berniat makannya nati di pantai siung aja sekalian istiraht. karena sebelumnya targetku mamang fokus ngambil gambar. And than, ku putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Siung.
Bruuum brummm, mator ku starter dan melaju kearah pantai siung.



Pantai Jogan
Setelah kurang lebih 15 menit perjalanan, aku mulai mendekati pantai siung. Namun di pertigaan ke pantai Jogan kupustuskan sekalian mampir ke pantai ini dulu karena terlewat dan masih satu komplek. Sebenarnya pantai jogan juga merupakan tebing pantai, namun ketinggiannya tidak terlalu, hanya sekitar 10-15 meter. Namun menariknya, di pantai ini dapat ditemui sebuaha air terjun yang juga di beri nama Jogan. Air terjun ini berhulu pada sebuah sungai bawah tanah yang keluar dari mulut gua. Air terjun ini lasung meluncur turun dan jatuh di pantai kecil di bawah sana dan bercampur dengan air laut. Dalam kondisi pasang pantai kecil itu terendam, menyisakan pemandangan buih putih deburan ombak yang sesekali mencapai bibir tebing karena besarnya hempasan gelombang. Suaranya menggetarkan dada saat berada di dekatnya tak ubahnya suara merdu gadis pujaan hati, Hi.... hi... hi.....

Pada bibir air terjun terbentuk ornamen semacam flowstone. Di berikan nama flowstone dikarenakan bentukannya menyerupai luapan air dari sebuah wadah air. Bentukan ini tercipta dari endapan batuan kapur yang tadinya terlarutkan oleh air yang mengandung asam. Setelah larutan itu jenuh akhirnya akan mengendap.
Pada bagian atas air terjun Jogan, terdapat semacam tanah lapang kecil di tepi sungainya. Yah cukup untuk sekedar bersantai-santai menikmati pemandangan yang elok ini. Ha.. ha....
Seandainya membawa tenda tentu asik sekali bermalam di tempat ini. Setelah malamnya ngalor ngidul ngobrol dan akhirnya tertidur pulas, keesokan harinya bisa langsung nyemplung ke kali untuk membersihkan diri dan menyegarkan badan, sambil di suguhi pemandangan lepas pantai selatan yang bagai tak berbatas.
He... he.... he....
Sebuah cara yang mudah dan efektiuf untuk menyegarkan badan dan pikiran.

Di area komplek tebing Pantai Jogan ini di penuhi dengan tanaman pandan, sehingga membentuk semacam hutan. Beberapa jalan setapak dapat di temui. Jalan ini biasanya dipakai penduduk setempat untuk mencapai ladang serta tempat-tempat strategis untuk memancing atau mencari lobster dengan cara ngrendet. 

Ngrendet adalah teknik mencari lobster dengan cara memasang jebakan yang terbuat dari jaring yang di rangkaikan pada sebuah lingkaran yang terbuat dari besi. Diameter lingkarang kurang lebih 30cm. Selanjutnya deberikan umpan dan di lempar ke dasar tebing setelah perangkap itu di berikan sebuah tali untuk menjaga agar tak terhanyut dan untuk mengangkat jebakan itu sendiri. Setelah lobster masuk dan memakan umpan, dia akan terjerat oleh jaring yang terbuat dari trajutan tali atau senar plastik yang halus.
Siapa yang menciptakan alat ini pertama kali ya?
Ha... ha.. ha... yang pasti bukan akulah, Hii... hi.... hi.... hi....
Sudah tak usah aku pikirkan, daripada rambutku rontok nanti, mending kulanjutkan perjalanan ke pantai berikutnya yaitu pantai siung. Lagian perutku juga semakin garang dalam berdemo karena minta segera diisi.


Pantai Siung
Pantai siungdikalangan penggiat alam bebas lebih dikenal dengan tebingnya.  Tebing-tebingnya biasa digunakan untuk kegiatan panjat tebing alam. Bahkan pernah diadakan acara Asian Climbing Gathering di tempat ini. Namun view pantainya pun tak kalah menarik untuk dinikmati. Pantai yang terbentuk disebuah teluk ini masih relatif baru. Oleh karena tergolong cukup terkenal, sudah banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung.

Hamparan pasir putih terdapat di pantai siung yang relatif masih alami. Belum banyak fasilitas di bangun di tempat ini. Namun setidaknya sudah dibangun halaman parkir  yang cukup luas, warung-warung dan fasilitas seperti mushola serta toilet. Di sisi sebelah timur merupakan perumahan bagi nelayan. beberapa kepala keluarga tinggal di tempat ini. Saat musim baik kita bisa membeli langsung ikan dari nelayan yang bersandar.

Sekarang waktunya makan. Berhubung kebetulan sedang musim ombak tak banyak pilihan menu ikan bisa dinikmati. Denan merogoh Uanga kurang dari Rp. 10000 , aku sudah bisa makan kenyang dan menikmati segelas esteh manis.

Setelah istirahat sejenak, aku enuju sebuah bukit. untuk mengambil gambar. Di sebelah barat pantai siung terdapat bukit yang cukup tinggi, Dari bukit ini kita bisa melihat secara utuh pantai siung. Saat memandang kearah timur tatapan akan  terbentur pada perbukitan tinggi yang begitu anggun. Jadi dari tempat ini kita bisa tahu kalu sebenarnya pantai siung merupakan ujung dari sebuah lembah.
Pada saat-saat tertentu dapat di jumpai gerombolan kera ekor panjang, bermain-main pada tebing-tebing yang banyak terdapat di pantai siung.
Makan sudah, ambil gambar sudah
Okeyh......
Waktunya lanjutkan perjalanan ke pantai berikutnya


Pantai Nglambor

Kebetulan beberapa saat yang lalu aku mengunjungi pantai siung. Waktu itu aku mendapat informasi, kalau ada pantai baru. Jalan menuju kesanapun baru saja di bangun, masih berupa susunan batu. Membuat penasaran saja
Ahaa...
Waktunya bersenang-senang
Setelah beberapa saat keluar dari area pantai suing , begitu keluar dari jalan aspal, langsung ku pelintir gas,
Waktunya olah raga
Tanjakan dan turunan jalan dengan susunan batu, menantang untuk dicumbui. Jalan baru itu sepi dari petani yang biasa melaluinya. Aku bebas memacu. Roda menggilas lubang sesekali melejit, shock absorber bekerja keras meredam hentakan.
Heehhhh,…
Memicu adrenalin, apalagi ketika sampai di puncak tanjakan langsung turunan cukup tajam
Waaww
Pemandangan yang luar biasa, di depan sana pantai dengan pulau kecil di tengahnya. Sulit untuk mendiskripsikan keindahannya. Segera ku keluarkan kamera dan mencuri keindahan itu. Sangat tidak rugi sampai di tempat ini. Di belakang dua buah gubung yang berdiri di lembah dan punggung bukit juga ikut mencuri perhatian



Gubung-gubug ini biasa di gunakan petani untuk beristirahat. berbagai peralatan masakpun biasanya ada. Petani setempat seharian berada di ladang, dari pagi sampai petang. Sehingga siang hari kadang mereka masak atau sekedar merebus air untuk membuat teh panas.
Hedewh...!!!!
Terbayang kenikmatan menyeruput teh tawar panas yang khas rasanya. Apalagi sambil melihat kearah panatai.
Serasa komplit sudah hidup......
Wakakakakakakakkkkkkk
Namun sayang semua itu hanya lamunan, namun hampir  seperti nyata dalam imajinasiku sambil enik mati keindahan pantai Nglabor.
He.. he.. he....
Belum puas, namun hari sudah beranjak sore, next dan next. Harus menuju pantai berikutnya.




Pantai Timang
Pantai ini tidak begitu jauh dari pantai nlambor, kurag lebih 15 menit perjalanan. Berbeda dengan kunjungan pertamaku. Kondisi jalannya sudah jauh lebih baik. Terdapat pantai kecil disini, aku ingat saat pertama kali kesini pagi-pagi sekali. Matahari sudah agak meninggi tetapi masih kemerahan. Tebing disisi timur menjadi siluet karena laut menjadi kuning keemasan menyilaukan. Pemandangan menakjubkan
Namun yang membuat tempat ini menjadi lebih eksotis, terdapat sebuah kereta gantung manual, yang biasa disebut gondola. gondola digunakan para pemancing untuk mencapai sebuah pulau kecil di tengah laut yang berjarak sekitar kurang dari 100 meter. Wuih serem, apa lagi deburan ombak di bwah sana begitu dahsyat.
Keranjang kereta terbuat dari kayu dengan roler-roler dari logam pada empat titik. Roler-roler itu akan meluncur pada tali plastik berukuran besar, mengantarkan  gondola dengan penumpangnya.


waktu sudah semakin sore, tak terasa jam menunjukkan hampir jam 17.00. Target untuk menelusuri seluruh pantai gagal. Aku salah perhitungan rupanya. Ternyata tak cukup satu hari untuk mengunjungi semua pantai di Gunungkidul. Akhirnya kuputuskan untuk menunggu matahari terbenam di pantai timang berteman dengan kesendirianku.
Setelah menjamak sholat dhuhur dan asar aku mempersiapkan kamera. namun ternyata harus berhemat. batre mulai low.
Beberapa menit namun waktu berjalan lamban. mendungpun mulai mengusik harapan untuk mendapatkan sunset terbaikku.
Huft...
Tak apalah
Itulah alam.
Kita boleh berharap, namun kekuatannya hanya bisa kita ajak kompromi bukan untuk kita tandingi.

Matahari semakin turun di ufuk barat.
Langit kemerahan refleksi mentari senja walau lebih sering bersembunyi dibalik awan.
Tak aku sia-siakan untuk merekam setiap momen itu, apapun hasilnya.
Hanya kepasrahan atas kemurahan-Nya dalam pikiranku, bersama kesendirian dantara karunia gemuruh deburan ombak dan langit yang merah merona, yang tetap terasa indah walau berhias awan hitam. Seraya berdoa jangan cepat engkau kembali keparaduan. Karana kegelapan malam akan segera menggantikan rona merah indahmu.
Namun takdirmu perputaran waktu, tak mungkin kau mengabulkan rengekku itu.
Karena esok pagi kau harus kembali, menciptakan keindahan-keindahan lain unuk makhluk-makhluk yang lain.
Bulkan hanya aku dengan keegoisanku.

Huft...
malam segera hinggap. aku harus kembali meninggalkan tempat ini.
masih banyak pantai-pantai lain dilain hari yang harus kusambanngi. Masih ada Sundak, Sepanjang, Kukup, Krakal, Drini, Baron, Ngrenehan, Ngobaran yang belum sempat aku datangi kali ini. Next time lah aku selesaikan project pantai-pantai ini.
Januari 29/2011

Yang Lain di: elangkatulistiwa.multiply.com

Gawat....!!!!!! Kamera Digital SLR Punya Batasan Umur

Sebetulnya aku kaget dengan membaca artikel ini, yah ternyata shutter pada kamera DSLR mempunyai batasan umur berarti sama seperti shutter SLR yang masih menggunakan film , karena selama ini aku beranggapan umur shutter kamera pada DSLR akan sama seperti pada kamera digital biasa yang selama kamera & tombol shutter nya tidak mengalami kerusakan dapat selalu digunakan

untuk memotret. Berikut adalah tulisan yang aku kutip dari suatu sumber:

Pertanyaan ini kerap muncul dalam perbincangan di forum atau diskusi pemula. Kamera digital yang nota bene tak lagi memakai film kerap dibayangkan sebagai sebuah kamera yang bisa dipakai terus menerus tanpa batas. Jepret sesukanya, lihat hasilnya, tidak suka ya tinggal hapus saja. Tanpa sadar jumlah foto yang sudah kita ambil mencapai ribuan hanya dalam waktu sebentar saja. Memang tidak ada salahnya apalagi demi alasan belajar fotografi, namun bila kita hanya memotret iseng saja, maka jangan gunakan kamera DSLR. Mengapa, karena kamera DSLR punya shutter unit yang umurnya terbatas.

Jawaban dari judul diatas jelas, karena shutter pada kamera DSLR bagaimanapun juga adala

h masih sama seperti pada kamera SLR film, berupa shutter mekanik yang meski sudah dikendalikan secara elektronik namun bekerja membuka-menutup secara vertikal setiap foto diambil. Gerakan shutter inilah yang menimbulkan suara khas dari kamera DSLR saat memotret. Banyak yang belum tahu kalau shutter itu bila terus menerus dipakai suatu saat akan rusak (macet atau tidak berfungsi). Kisah yang umum terjadi adalah saat seseorang baru membeli kamera DSLR dia begitu kegirangan memotret sesukanya dan tiba-tiba dia terkejut saat mengetahui kalau shutter kamera DSLR itu ada batasnya, lalu terbayang sudah berapa banyak foto yang dihambur-hamburkannya di masa lalu.

shutterunitUsia shutter (diist

ilahkan dengan Shutter Count) memang tidak ada yang bisa memastikan. Pabrik hanya mendesain shutter unit dan melakukan pengujian hingga jumlah tertentu dan merilis hasilnya di spesifikasi kamera DSLR. Kamera kelas pemula dinyatakan lolos uji hingga 50.000 kali pemakaian, sementara kamera kelas diatasnya bisa mencapai 100.000 kali bahkan hingga 300.000 kali. Angka ini tidak mengikat, ada kamera pemula yang bisa melampaui angka 50.000 dan

ada juga yang baru 25.000 sudah rusak. Untuk melihat sudah berapa kali sebuah kamera DSLR itu dipakai, lihat shutter count di data EXIF-nya.

Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa shutter mekanik semacam ini masih diperlukan di kamera DSLR? Padahal kamera digital biasa mulai dari kamera ponsel sampai kamera prosumer memakai shutter elektronik dengan hanya mengandalkan sensor saja. Tak lain jawabannya adalah karena sensor pada kamera DSLR tidak bisa melakukan ‘gating’ atau on-off tanpa bantuan shutter unit ini. Saat shutter masih tertutup, sensor mengalami kondisi ‘gelap’ dan saat kita memotret shutter membuka sejenak (sesuai shutter speed yang diatur oleh kita atau kamera) lalu menutup lagi. Dari gelap pertama menuju gelap kedua itulah trigger bagi sensor untuk bekerja. Di masa depan shutter mekanik bisa saja sudah tidak digunakan, bila produsen berhasil mendesain alternatif lain yang lebih murah namun tetap handal.

Copy Paste dr:
http://kamera-gue.web.id/2010/09/01/mengapa-shutter-kamera-dslr-punya-batasan-umur/

Jumat, 13 Mei 2011

MEWAHNYA SETETES AIR

Terkadang kita larut dalam kehidupan kita sendiri dan lupa kita hidup di dunia nyata yang luas ruang lingkup serta komplek permasalahannya. Sukur-sukur kalo aktifitas yang kita lakukan itu positif, dalam arti bermanfaat bagi diri sendiri terlebih bagi sesama. Tetapi kadang terjerumus pada pola pikir keduniaan yang hanya mengejar kebendaan hanya untuk mengejar kepuasan semu tak berujung. 
He.. he.. he.. pengantar yang buruk rupanya dan mungkin kurang nyambung, Tapi mungkin itu pesan moralnya.


Dalam ilmu geologi, di planet bumi yang kita tinggali ini terdapat banyak jenis bentang lahan. Diantaranya pegunungan vulkanik, padang pasir, karst dan lain2 lain. Kebetulan meurut ilmu geologi, saya tinggal di kawasn karst. Dengan bantuan teman, sedikit banyak saya menjadi lebih tahu tentang tempat saya itu. Dan ternyata bentang lahan seperti yang saya tinggali ini banyak terdapat di Indonesia, bahkan tersebar di seluruh dunia. 

Karst adalah area dengan batuan gamping sebagai penyusun bentang lahanya dan telah mengalami karstifikasi. Batuan yang dalam kimia di kenal dengan kalsium karbonat itu tadinya berupa terumbu karang yang terbentuk di lautan. Karena proses tumbukan antar lempeng benua, memungkinkan area ini terangkat secara kontinyu hingga mncapai ketinggian puluhan sampai ribuan meter diatas permukaan air laut. Perlu diketahui bahwa pegunungan jaya wijaya sebagian areanya juga merupakan kawasan karst. Ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya fosil-fosil binatang dan tumbuhan laut seperti layaknya terumbu karang, yang letaknya jauh di daratan, sampai puluhan kilo meter dari pantai. 
Setelah berada di permukaan karena batuan ini berpori bahkan berongga, berlapis, serta terdapat retakan-retakan dalam skala luas, maka air hujan meresap melalui ketiga media itu. Kalsium karbonat secara kimiawi lemah terhadap asam yang terkandung dalam air hujan. Maka batuan gamping akan tererosi, membentuk  perbukitan dan lorong-lorong gua di bawah permukaannya. Peristiwa pelarutan hingga terbentuknya perbukitan dan lorong-lorong gua inilah yang yang disebut karstifikasi. Kawasan yang terbentuk karena proses ini disebut kawasan karst.


Ironisnya di sebagian kawasan ini mempunyai curah hujan yang relatif mini. Saat terjadi hujan, air tidak bisa bertahan lama di permukaan. Sebagian menguap, sebagian meresap kedalam tanah danbatuan karena sifatnya yang berpori, sebagian lagi laansung masuk ke lorong-lorong gua atau mengalir kesungai dan terbuang ke laut. Jarang sekali di jumpai sumur dan sungai yang ada airnya sacara permanen sepanjang taun. Kebanyakan kering di musim kemarau. Sedangkan air yang meresap kedalam batuan tadi, diteteskan secara bertahap dalam rongga-rongga gua. Tetesan ini akan menjadi kolam kolam kecil, aliran kecil hingga aliran sungai bawah tanah dengan debit yang relatif besar. Debit bisa beberapa liter perdetik tetapi bisa mencapai ratusan bahkan ribuan liter/detik di bagian hilir yaitu di pantai-pantai karst. Sehingga sering di jumpai suber-sumber matai air kecil dan besar di pantai-kars karst yang merupakan ujung dari sungai bawah tanah.

Fenomena ini menarik secara keilmuan, namun skaligus bencana bagi sebagian kawasan karst yang tandus dan kering disaat musim kemarau. Air menjadi sangat langka dan sulit dijumpai. Tanaman pangan tidak bisa tumbuh, kesulitan untuk mendapatkan air untuk di konsumsi, minuman ternak dan kebutuhan sehari-hari. Sedang kita tahu air menjadi kebutuhan mendasar dalam kelansungan hidup setiap makhluk. Coba bayangkan menjadi minim atau bahkan tidak ada sama sekali.

Hal ini deperparah dengan laju kerusakan hutan yang berfungsi memperlambat peresapan dan pengaliran langsung ke saluran pelimpasan serta menghambat penguapan.Di tambah lagi penambangan batu gamping atau batu kapur sebagi bahan dasar semen, kosmetik dan berbagai bahan dasar industri lainnya. Sesunguhnya batuan gamping berfungsi sebagai penyimpan sementara seperti halnya busa yang menyerap air dan meneteskannya secara perlahan hingga musim penghujan berikutnya tiba untuk diisi kembali. Pengalih funngsiana hutan dan penambangan gamping di kawasan karst menjadi bom waktu yang bergerak capat menghasilkan bencana kekeringan dalam sekala besar.

Di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi
Realitas ini sudah banyak terjadi di Pulau jawa. Penduduk di darah yang relatif belum berkembang baik bahkan cenderung tertinggal, sebagian besar sumber ekonominya sebagai petani. Mereka rela antri di pagi buta, pada sumber-sumber mata air kecil yang tersisa. Mereka mandi dan mencuci di telaga-telaga karst yang akhirnya akan mengering juga. Terkadang mereka harus rela berbagi tempat dengan ternak sapi yang dimandikan. 

Bulukumba Sulawesi


Bagi mereka yang mampu, membeli dari tangki-tangi air komersil dg harga mahal unutk sebuah air. 5000l air di hargai mulai Rp. 70.000,- - Rp. 150.000,- yang cukup di konsumsi selama 2-3 minggu tergantung pola konsumsi dan jumlah anggota keluarga. Bayangkan bila musim kemarau berlangsung selama 5-6bulan atau lebih, pada awal-awal musim penghujan, air juga masih susah didapatkan. Merka juga harus merelakan uang tak kurang dari Rp.20.000,- / hari untuk membeli pakan ternak bagi yang memelihara ternak. Oleh karena itu, ternak di kawasan ini lebih dinilai sebagai investasi atau tabungan yang dapat dijual setiap saat, ketika terhimpikt kebutuhan. Karena kalau di hitung secara ekonomi antara biaya produksi selama pemeliharaan dan harga jual, hanya ada beda tipis bahkan terkadang merugi.

Namun realitas yang lain lagi, terjadi di perkotaan yang notabene sumber air alira pipa PDAMnya diambil dari daerah2 pegunugan atau setidaknya aliran sungainya berhulu dari daerah-daerah pegunungan. Penduduknya sering menghambur-hamburkan air yang terkadang untuk kepentingan yang tidak perlu. Semoga dengan tulisan ini bisa membantu membuka wacana untuk lebih menghargai setiap tetes air yang kita gunakan, karena dilain sudut bumi ini, setiap liter air bukan hanya menjadi barang yang mewah namun juga terkadang sangat susah diakses.


Kamis, 12 Mei 2011

PINDAHAN

Sepertinya ada rencana pindah domisili, walau bulum pasti tapi ada yang perlu dipindahi duluan.

Mungkin di tempat baru nanti akuakan kesusahan mengakses dunia maya.
Terus apahubungannya dengan dunia maya

begini ceritanya
Gb. yesimoci-mqlovers.blogspot.com
Karena mengelola blogspot ini elatif masih baru maka isisnya masih sepi
Jadi perlu dibikin rame
Nah sedangkan aku aku juga punya akun multiply di elangkatulistiwa.multiply.com yang sudah lama aku kelola
Jadi kenapa ga..?!?!!!!
Sambil menunggu tulisan-tulisan baru berikutnya, bahan dari multiply dapat buat menuh-menuhin blog ini
He.. he... he....

Senin, 09 Mei 2011

CERITA SEORANG TEMAN


Beberapa tahun silam seorang teman datang tak diundang. Seketika muncul dalam list pertemanan aplikasi massanger yang baru saya aktifkan. Mungkin sekitar tahun 2006. Pendek kata haari berlalu. Disela-sela waktu luang barisan huruf, angka dan symbol terkadang berbalasan. Sambil sesekali terhenti oleh kesibukan. Kadang berisi gurauan, kadang cerita omong kosong. Doing nothing with friend istilahmu
Semakin kesana terkadang menjadi semakin serius. Dari cerita biasa sampai akhirnya berbagi tentang latar belakang hidup, pandangan hidup, orientasi hidup sampai ke permasalahan hidup.

Ya …
Setiap orang pasti mempunyai permasalahan hidup. Begitu juga dengan aku dan temanku itu.  Terkadang kami bertukar pikiran, saling mengeluh dan salang menguatkan. Begitu mesra dalam sebuah hubungan  pertemanan. Yah…
Hal ini juga dikarenakan sejak aku lepas dari rumah memang selalu kehilangan teman untuk bertukar pikiran, dalam arti yang lebih mendalam. Terus terang aku besar di lingkungan pertemanan di banding lingkungan keluarga. Hingga sebuah kesalahan aku berpikir lebih tentang sebuah perteman. mungkin sudah nasibku menjadi tempat penampungan setiap permasalahan, tanpa aku berkesempatan aku mengungkapkan permasalahanku sendiri. Serasa tak adil memang. Namun ini mungkin berkat yang selama ini tidak aku sadari dan lupa aku syukuri.

Masalah yang dia keluhkan begitu pelik dan seakan tak tahu dimana ujung pangkalnya. Aku selalu mencoba memberikan pandangan yang obyektif. Yang ku dapatkan pemahaman bahwa dalam setiap permsalahan hanya orang itu yang benar-benar tahu. Aku tak ingin memaksakan cara pandangku terhadap permasalahan itu. Selalu ku diskusikan, antara cara pandangku dangan penilainnya sendiri terhadap masalahnya itu sendiri. Dari situ kocoba memberi jalan tengah antara idealnya sebuah permsalahan diselesaikan dengan egonya untuk mendapat solusi yang sesuai dengan keinginannya. Hidup ini bukan masalah keinginan teman, tapi hanya maslah berusaha dan mensyukuri apa yang kita dapatkan.

Suatu ketika di tengah hari, entah kenapa dia menelepon, dengan nada suara yang sangat gusar. Bahkan di dalam telepon dikatakan tidak peduli walaupun dalam jam kerja dan dalam pengawasan kamera cctv di area kerja. Bukan watak sebenarnya dalam keseharian kerjanya. Begitu pelik rupanya, sebuah luapan emosi yang agak tak terkendali. Aku hanya mencoba menenangkan dan membuata otaknya dingin. Sambil kusisipkan gurauan pada akhir pembicaraan. Dengan harapan, senyum menjadi hasil akhir dari keluh kesah itu.

Waktupun terus beranngsur berganti. bebrapa tahun kemudian berita baikpun mulai terdengar. Apa yang aku katakan dulu yang tidak dia inginkan harus terjadi juga. Walau baik yang kumaksud mungkin memang sepihak untuk kebaikannya. Tetapi bukan baik dalam arti keseluruhan. Sampai saat tulisan ini kubuat, proses penyelasaianya masih berjalan. Dan kudoakan semoga capat berakhir mimpi buruk berkepanjangan itu.

Namun sebenarnya keadaan sedikit berbalik saat ini. Aku sedang menghadapi kegelisahan. Kegelisahan diombang ambingkan sang waktu. Di ombang-ambingkan dalam keyakinan sebuah janji yang aku yakini pasti kebenarannya.
Ya……
Hanya masalah waktu dan keiklasan dalam menjalaninya sebenarnya
Namun kegelisahan itu begitu menyeruak. Dan aku butuh seorang teman untuk mengukuhkan keyakinan apa yang ku yakini itu. Tapi keadaan tidak mengijinkan rupanya. Kesibukan dan tanggung jawabnya yang begitu besar, mengkendalakan keinginanku itu. Terkadang pikiran buruk muncul. Namun beru-buru ku tepis. Aku berusaha memahami keadaan itu walau terkadang serasa tak adil. Semoga itu perasaan yang wajar dan manusiawi.
Akupun tidak ingin perasaan ini berlanjut, tetap berpikir jernih dan menepis prasangka buruk.
Dengan terpakasa aku harus menghilangkan setiap kontak untuk mengaksesnya secara digital.
Mungkin ini yang terbaik untuk aku dankamu temanku
Maafkan
Aku berdoa, semoga kamu mendapatkan yang terbaik di dunia dan akhirat kelak
Kamu akan tetap menjadi temanku, menjadi bagian dari setiap pecahan serpihan penyusun mozaik kehidupanku sebagaimana serpihan serpihan mozaik yang lain yang telah membentuk lukisan kehidupanku sampai saat ini.
Aku tak berharap banyak sampai suatu saat kilatan cahaya redup melintas di ufuk barat ikut terbenam bersama mentari yang kembali keperaduan dan semakin temaran oleh terangnya lampu-lampu yang menyesatkan. Bukan seperti pelita kecil yang menjadi penuntun dalam gulita kegelapan malam

Jogja042009052011
Jaga malam cui
 Daripada liat pilem porno, wakakakakakakkakkakakak