Total Tayangan Halaman

Senin, 14 Februari 2011

Masa-Masa Itu

Terus terang daya ingatku tak bagus
Perlu triger-triger tertentu untuk membuka kembali memoriku
Namun tak ada salahnya kucoba mengingat kembali masa-masa yang sudah berlalu itu
Tigapuluh tiga tahun, satu bulan, empat belas hari sampai dengan hari ini

Aku terlahir sekian puluh tahun plus plus plus yang berlalu itu
Tak banyak yang kuingat
Namun tak ubahnya anak-anak yang lain, masa kecil adalah masa bahagia,
dimana aku tak mengenal dosa, tak mengenal beban, selalu punya keinginan,
ketertarikan pada sesuatu, segudang pertanyaan pada hal-hal yang baru
dan hal-hal yang lain seperti layaknya anak-anak yang lain.

Terlahir dari keluarga biasa
Bapak Seorang guru, guru agama
Ibuku juga seorang guru, guru sekolah dasar
Satu lagi seorang nenek, nenek yang juga mengajarkan banyak hal
Hal yang juga banyak berpengaruh pada kehidupanku saat ini
Juga seorang adik laki-laki, yang mengajariku menjadi seorang kakak

Kami tinggal di sebuah dusun kecil di Gunungkidul
Dusun tenang dan damai
Tinggal di sebuah rumah kayu berdinding bambu, rumah tinggalan almarhum kakekku
Yang tak pernah berjumpa denganku semasa hidupnya.
Sebelah barat rumah sederhana kami sebuah sawah
Sawah yang selala menghijau saat musim penghujan
Sawah itu mengajarkan aku apa itu jankrik
Dan bagaimana kami mencari jangkrik secara beramai-ramai, ketika musim hujan datang untuk pertama kali, Dan air membanjiri ladang yang sudah dicangkuli ujung kemarau kemarin
Sehingga jangkrik2 keluar dan terhanyut dan kami memunguti berkah rahmat Ilahi itu dengan penuh suka cita
Sawah itu mengajarkanku apa itu padi, apa itu ikan , apa itu kunang-kunang, apa itu kupu-kupu
Apa itu memancing, apa itu berkubang di lumpur untuk mencari ikan, apa itu bercocok tanam
Sawah yang juga mengajarkan aku bagaiman bermain layang-layang dimasa sesudah panen
Sambil membunyikan dremenan, mainan tiup yang terbuat dar batang padi
Sampai bagaimana membuat sebuah layang-layang hingga bisa terbang dengan kesetimbangan

Di pinggir sawah itu ada sebuah sumur
Sumur yang kami gunakan secara bersama-sama dengan tetangga
Sumur yang mengajarkan aku bagaimana itu menimba
Sumur yang mengjarkan aku bagaiman membersihkannya secara bersama-sama ketika menjelang kemarau
Sumur yang mengajarkan aku berbagi belut dari dalam sumur itu, ketika kami selesai membersihkan lumpur dan dedaunan dari sumur tua itu

Diujuang sawah adalah sungai.
Ia dengan rela membiarkanku mandi setiap pagi, sampai teringat kembali sejuknya saat ini
Sampai teringat lagi kabut tipis yang menari-nari diatas air dikala pagi
Sungai itu juga mengajarkan aku bagaimana mencuci baju
Bagaiman orang-orang menyiram tanaman, bagaimana asiknya memancing mencari ikan
Sungai itu juga membiarkanku mandi di sore hari, sesudah lelah bermain seharian
Lelah berpura-pura membantu mencari rumput, lelah berpura-pura mencari kayu bakar
Sungai itu juga mengajarkan aku
Bagaimana orang membuat sumur-sumur kecil, saat kemarau datang dan sungai itu mengering
Dan aku bersama orang-orang rela  mengantri dari pagi buta, hanya untuk mendapatkan beberapa ember air
untuk mencukupi kebutuhan air sehari-hari

Seingatku, masa itu jalan belum beraspal
Kembali dalam ingatanku, ibu-ibu berkebaya dengan kain jarik, berjalan secara bersama-sama pergi kepasar pada pagi hari dihari-hari tertentu sambel menggendong tenggok, sebuah wadah terbuat dari bambu.
Kembali pula dalam ingatanku, para bapak bersurjan, dengan celana kolor komprang berwarna hitam memikul hasil panen untuk di jual kepasar

Seingatku listrik belum ada saat itu
Sinar rembulan masih terasa saat purnama tiba
Lampu-lampu minyakpun masih begitu terang terasa, sambil sesekali meredup ketika tertiup hembusan angin malam
Pesawat televisipun belum banyak yang punya
Kembali delam kenangan, bagaimana kami bersuka cita menonton televisi secara bersama-sama , meononton siaran TVRI dari sebuah TV dengan sumber energi sebuah aki yang harus di charge di kota kecamatan ketika
habis dayanya

Mungkin dari sudut pandang lain begitu susah masa-masa itu
Namun begitu indah kekunang saat ini
Saat bagaimana mentari terbit dikala pagi
Saat mentari terik disiang hari
Saat angin kencang menerbangkan layang-layang kami
Saat bagaimana air kali meluruhkam pelus dan penat
Saat mentari senja kembali ke peraduan

Mimpi basah

Akhil baligh ditandai dengan mimpi basah
Disitulah kesadaran seksual dimulai
Sebuah sistem rumit, untuk menjaga keberlanjutan regenerasi umat manusia
Akupun berawal dari situ
Bapakku mimpi basah, pertanda akhil baligh
Kemudian bertemu ibuku
Dan lahirlah aku

Kamis, 10 Februari 2011

Ngimpi

Ngimpi bahasa Indonesianya mimpi
ada yang bilang semuanya berawal dari mimpi
bener ga ya..??????!!?!?