Total Tayangan Halaman

Selasa, 08 Maret 2011

Fase

Banyak cerita tentunya
Tapi tak mudah mengingatnya
Masa kanak-kanak
Apa ya yang berkesan....????
Ini dulu ya.
Dulu bapaku punya sepeda motor merek Yamaha. kalo ga salah serinya L-2G. Setiap pulang kerja sebelum masuk rumah, aku selalu minta diajak putar dulu. Kalo ga diturutin pasti ngamuk.
Yah namanya anak-anak. Namun mungkin juga sudah menjajadi bawaanku, bahwa sebenarnya aku menyukai kendaraan beroda 2. Walaupun aku bukan seorang biker, namun sepeda motor saat ini mempunya tempat tersendiri di hatiku.Mengendarainya memberi rasa kebebasan. Terpaan angin, keleluasaan waktu, kontrol otak dan tubuh dan yang pasti flesibilitas untuk menuj tempat-tempat yang terkadang sulit. Ya tempat sulit adalah tempat yang kusukai. karena disitu untukku akan memberikan hal yang berbeda dan adanya sebuah kedamaina. Sekali lagi itu semua menurutku.
Dan bapaku, dengan sabar memahami itu.
He he he baru itu yang ku ingat

Oh iya aku punya seorang nenek (almarhum). Nenekku sebenarnya sangat sayang dengan cucu-cucunya. terutama aku dan adiku karena tinggal serumah. Sedang cucu lainnya tinggal di magelang dan surabaya.
Karena kegiatann mengajar bapak dan ibuku. aku sering bersama neneku. Bahakan akau emanggilnya dengan panggilan mbok, panggilan yang seharusnya dikenakan pada sorang ibu. Menurut cerita, aku dulu sering minta diajak kemana-mana. Setiap bepergian, kalo tidak jalan saya selalu di gendong. Pernah suatu ketika konon aku minta naik mobil angkutan umum. Waktu itu masih sangat jarang kendaraan umum. Sesudah naik, katanya saya tidak mau turun. Sehingga seharian ikut putar-putar ikut naik angkutan itu.
Hmmmmmmm....
Sebenarnya aku geli terinagat itu, memalukan sekali.....
Namun jadi trenyuh juga, mengingat aku juga sering bertengkar dengan nenekku. Kenakalan anak kecil pada neneknya, di masa SD saat mulai main-main sendiri bersama teman sebaya.
Nenekku orang yang keras. Saat ini aku bisa memahami itu. Nenekku harus membesarka ketiga anaknya sendiri setelah kakek meninggal. Kata ibukupun, ibu sudah samar-samar ingat kakekku. Ibuku masih kecil saat kakek meninggal.
Terbayang keulitan dihadapi seoarang janda dengan anak tiga, saat itu masa-masa sulit, sisa-sisa masa perang kemerdekaan.
Semoga engkau mendapat tempat yang terbaik disisiNya mbok, maafkan semua kesalahanku saat itu.

Masa SD
Sebenarnya ku biasa-biasa, otak ga encer-encer amat, apalagi soal hitung menghitung, jelas keterbelakangan sepert keterbelakangan mental malahan.
Tapi di beberapa mata pelajaran aku lebih bisa mengikuti. Hanya saja saya memang paling malas belajar dan suka menunda-nunda. Saya lebih suka mendengar cerita atau melihat peristiwa. Dari situ  biasanya berlanjut terobsesi menjalankan sesuatu. Dan kayaknya masih terbawa saat ini. Yah itu fakta
Jadi watak juga suka agak aneh-aneh dan kepengen beda sama yang lain. Cumu yang saya inginkan itu kebanyakan tidak di gemari teman yang lain.
Seingatku aku lebih seneng bermain di alam terbuka, terkadang pura-pura berkemah, ikut nyari kayu kehutan, main disawah, mandi di kali sampe dimarah-marahi, sampe-sampe saya pernah bersembunyi seharian sampe ketiduran di bawah kolong tempat tidur, karena takut di marahi dan di pukul bapak atau ibu.
Saat ini juga aku baru paham, sebenarnya itu bahaya sekali, karena sering sekali saya lakukan bersama teman-teman saat banjir tiba. Menurutku saat itu menantang dan menyenangkan
He.. he.. he...
Banyak lagi lagi hal konyol sebenarnya, tapi benar-benar lupa detailnya
Ya sudahlah, mungkin tak penting juga.

Salah satu hal yang agak berkesan, aku punya teman, Surat namanya, ibunya mengalami gangguan jiwa dan tinggal terpisah bersama dua adiknya.. Sedang dia ikut bapaknya, secara ekonomi dia kurang beruntung. Kami cukup dekat namun tak banyak yang kuingat. Seingatku saat kelas tiga dia sudah tidak sekolah lagi. Sekarang aku tak tahu dia dimana. Satu lagi, Suprih namanya. Suprih teman dekatku waktu kelas 3 atau kelas 4  Dia anak yatim, Bapaknya telah tiada. Ibunya sendiri mengalami gangguan fisik susah berjalan. Secara ekonomi sendiri mengalami keterbatasan. mereka hidup bertani.Aku sering makan ditempatnya, waktu itu saya tak sampai berpikir kalu itu akan menambah beban mereka. Suatu ketika saat saat masak tidak ada korek api dan hars pinjam ke tetangga. Hari berkutnya aku mengambil korek apai dari rumah dan ku bawa kerumahnya saat pulan sekolah. Saat aku sampai di rumah, korek itu dicari-cari, akupun tak berani ngomong kalau tak ambil. Entahlah, sejak kecil aku lebih nyaman berteman dengan orang-orang semacam itu
 Ha... ha... ha... sudahlah
Itu sekedar cerita, itu juga saya tulis karena teringat saja
Sedangkan yang lain elum juga melintas
Hanya hari ini aku berdoa, kalu mereka masih ada, semuga mereka lebih beruntung dari pada aku.